Perasaan Asing yang (Tidak) Mengganggu

I wanna sing, I wanna shout
I wanna scream till the words dry out
So put it in all of the papers,
I’m not afraid
They can read all about it

Aku hanya ingin bebas berekspresi. Entah itu tertawa lepas, menangis penuh teriakan, atau hanya percakapan ringan bersama teman sebaya lainnya. Tak peduli dengan perkataan orang lain, yang ku inginkan hanyalah hidup seperti yang aku mau, tanpa ada caci maki dari orang lain.

Aku bukanlah manusia sempurna bak malaikat, akupun bukan manusia dengan sejuta hina layaknya iblis. Tak apa tak menganggapku ada, itu lebih baik. Daripada menggunjing ku bagai manusia yang kehausan. Inginku abaikan, tapi hati ini tak mampu untuk berdiam.  Hati ini terasa semakin kotor, semakin penyakitan pada saat kata-kata kalian terlontar.

Awalnya aku ingin membuktikan, bahwa aku bukanlah seperti yang kalian katakan. Tapi, lagi lagi tubuhku pun ingin berkhianat. Kata-kata kalian seperti menghipnotis, entah dari kapan aku semakin menjadi seperti yang kalian katakan.

Setiap malam sebelum kembali terlelap, pikirku melayang. Apa yang salah dengan saya? Apa yang saya lakukan hingga saya mendapat perlakuan seperti ini? Buat apa saya dilahirkan? Apa saya hanya sebagai pelengkap kehidupan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan putus asa sering ku lontarkan. Tak apa, mungkin ini hanyalah proses intropeksi diri, pikirku awalnya. Tapi mengapa semakin lama pertanyaan seperti itu hidup di pikiranku, aku malah berasumsi bahwa ini adalah aku yang salah. Mereka seperti itu, karena aku yang salah. Aku yang hanya menjadi pemeran figuran di kehidupanku sendiri pun, karena aku yang tidak berani mengambil peran utama. Bukan salah mereka.

tapi ini salahku.

Posted from WordPress for Android