Lahir dari Rakyat untuk Kembali Merakyat

Apa yang akan terlintas dalam benak kita, ketika mendengar kata “pembangunan”? Apakah tentang kesenjangan ekonomi di Indonesia yang kian meningkat? Atau pembangunan infrastuktur, pendidikan, maupun kesehatan di pedalaman Indonesia yang masih sangat minim? Atau malah jargon “Revolusi Mental” yang digadang-gadang oleh Presiden kita saat ini, bapak Joko Widodo? Semua konotasinya beberapa terdengar negatif, namun inilah yang menjadi pertanyaan dasar kita, apakah manfaat pembangunan Indonesia yang sudah terlaksana hampir 71 tahun sejak kemerdekaannya, sudah bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia? Faktanya manfaat dari pembangunan masih hanya dirasakan oleh segelintir golongan masyarakat, sedangkan sebagian besar lainnya belum merasakan manfaat dari pembangunan ini sendiri. Indikasi ketimpangan pemerataan pembangunan dapat dilihat dari perbedaan tingkat kesejahteraan dan perkembangan ekonomi antarwilayah. Realitas ketimpangan pembangunan antarwilayah di Indonesia dapat dilihat dari data daerah tertinggal (2010), dari 541 kabupaten/kota di seluruh Indonesia terdapat 199 atau sekitar 43% kabupaten/kota yang termasuk daerah tertinggal, dengan konsentrasi di Kawasan Timur Indonesia sekitar 62% dan 38% lainnya berada di Kawasan Barat Indonesia.

Pembangunan nasional tidak hanya seputar peningkatan pertumbuhan ekonomi saja. Akan tetapi, banyak juga aspek kehidupan bangsa yang perlu diperhatikan, dari aspek ekonomi, politik, sosial budaya, hingga pertahanan dan keamanan, karena pada hakikatnya pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya. Pembangunan Sumber Daya Manusia perlu digalakan sejak dini, tanpa Sumber Daya Manusia yang berkualitas, sulit rasanya bagi suatu negara berkembang menjadi maju dengan cepat meskipun dengan sumber daya alam yang begitu melimpah. Seperti yang pernah ditekankan oleh bapak Anies Baswedan, mantan Mendikbud Kabinet Kerja, beliau menuturkan kekayaan Indonesia adalah sumber daya manusianya, bahwa sebenarnya yang harus dikembangkan adalah sumber daya manusia karena dengan begitu, akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

Jika masyarakat dan pemerintahan sebagai aktor utama pembangunan, lalu siapakah yang menjadi aktor penggerak yang mendukung serta menyokong program-program pembangunan? Ya, mahasiswa. Mahasiswa dapat dikatakan memiliki posisi tengah, berada di antara masyarakat dan pemerintah. Hal ini dikarenakan peran mahasiswa sangatlah strategis dalam menyampaikan aspirasi rakyat maupun sebagai penyambung lidah pemerintah. Terlepas dari anggapan mahasiswa sebagai agen perubahan atau kaum para intelek yang memiliki banyak ilmu, mahasiswa tetaplah bagian dari masyarakat. Mahasiswa lahir dari masyarakat, sudah sepatutnya mahasiswa berperan aktif dalam membela kepentingan rakyat untuk kemajuan bangsa ini. Di saat kebijakan pemerintah sering kali meyudutkan rakyat, di sinilah peran mahasiswa sebagi penyalur aspirasi rakyat. Meskipun dalam praktiknya, sering kali gerakan-gerakan mahasiswa malah dianggap mengganggu ketertiban, tetapi gerakan-gerakan mahasiswa sering kali berdampak besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia secara umum. Pasca kemerdekaan, sebut saja pergerakan mahasiswa tahun 1966 untuk melengserkan pemerintahan Soekarno dan pergerakan mahasiswa 1998 tahun yang para mahasiswanya bak gelombang tsunami turun ke jalanan Ibukota untuk meruntuhkan rezim Soeharto. Jika dilihat, pergerakan-pergerakan mahasiswa tersebut memiliki motif yang sama, yaitu untuk melakukan perubahan pada tatanan kehidupan sosial-budaya, ekonomi-politik, dan hukum untuk menjadi tatanan yang lebih baik dari sebelumnya. Mereka bergemuruh di jalanan. Meneriakan ketidakadilan pemerintah pada rakyat kecil ketika penguasa negeri berdiri kokoh menekan rakyat di bawahnya. Meraung saat ditertibkan oleh aparat ketika aspirasinya dipaksa untuk dibungkam. Inilah sedikit potret pergerakan mahasiswa yang sering dilakukan di jalanan, namun miris, esensinya sekarang berubah perlahan menjadi suatu pergerakan masa yang anarkis tak tau etika. Seorang Dosen FKIP jurusan Ilmu Biologi di Universitas Cendrawasih mengalami cidera serius akibat lemparan batu seorang mahasiswa Universitas Cendrawasih yang tengah berdemo pada Kamis, 26 Mei 2016. Ketika niat yang baik disalahartikan karena penyampaian yang buruk, siapakah yang merugi? Ketika aspirasinya terpaksa tertahan sampai di teriakan para mahasiswa, siapakah yang akhirnya gigit jari?

Mahasiswa lahir dari rakyat untuk kembali merakyat, kembali mengabdi pada lingkungan yang telah membesarkannya. Mengimplementasikan kembali ilmu yang telah didapatnya. Tidak perlu menjadi seorang abdi negara untuk mengabdi pada bangsanya, jadilah bagian dari masyarakat yang peduli akan lingkungan sekitarnya. Mahasiswa adalah calon pemimpin di negara ini, apakah cerdas saja sudah cukup untuk menjadi sesosok pemimpin yang amanah pada tugasnya? Di saat bangsa ini perlahan kehilangan kepribadiaanya, banyak yang mengesampingkan budi pekerti luhur bangsa, dan kejujuran dianggap hal yang begitu tabu untuk dilakukan, di manakan mahasiswa akan mengambil perannya sebagai aktor pembangun bagi negaranya?

Manusia sering berpikir untuk mengubah dunia, namun ia sering lupa akan satu hal, mengubah dirinya sendiri untuk menjadi yang lebih baik.

Hidup mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! Gaungkan suaramu!

Iklan

Sejak Lama

Ku ingin rasakan pedihnya tertusuk bilah pisau
Hingga aku lupa bagaimana caranya untuk menangis kesakitan
Beralunan tangis
Bernafaskan kepedihan
Aku ingin merasakannya
Hingga tak ada jerit kepedihan

Ingin rasanya untuk berdiam sejenak
Hati lelah
Pikiran pun sama
Begitu kusut hingga tak tahu apa yang harus diselesaikan
Begitu rapuh sering terbentur duri
Bagaimana bisa badan ini tetap berdiri kokoh?

Sungguh, aku ingin merasakan sakit tertusuk pisau beracun
Tak apa
Biar aku kebal akan rasa itu
Biar aku kebal akan racun itu
Toh, sudah lama aku menanti hal ini akan datang
Hingga aku tidak akan mengeluh lagi
Oleh segala remeh temeh kehidupan
Ya,
Aku akan menanti hari itu tiba
Dengan tangis akan kusambut dengan bahagia
Hatiku segera mati
Perlahan tapi pasti

Posted from WordPress for Android

Sekedar Asumsi atau?

Ngga penting sekolah kamu di mana, yang penting kamu belajarnya gimana.

Kalimat yang terdengar sangat sederhana, tapi akan menjadi begitu kompleks jika terjadi di kehidupan nyata. Sempat merasakan bagaimana bersekolah di smp favorit dan kini bersekolah di sekolah yang “biasa” membuat saya paham akan pandangan orang tentang asal sekolah seseorang. Dahulu, ketika saya masih menyandang sebagai siswa dari salah satu smp terfavorit, saya memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan maaf, ketika ada murid dari smp lain yang (maaf) biasa saja yang ada dipikiran saya adalah anak-anak yg tidak peduli akan akademik dan cenderung bebas. Memang, paradigma masyarakat yang mendorong opini jika seorang siswa yang bersekolah di sekolah yang biasa saja adalah siswa yang tidak berkompeten, tidak memiliki daya saing, atau tidak memiliki gairah untuk meraih mimpi setinggi-tingginya telah membuat kebanyakan dari kalangan atas memandang rendah yang tidak sehebat dirinya.

Hal ini baru terjadi sekitar beberapa jam yang lalu, masih hangat diingatan saya ketika saya dan teman-teman saya diabaikan oleh seseorang yang bisa dibilang telah melangkah lebih jauh dari kami dalam meraih cita-citanya. Diabaikan karena bukan berasal dari sma favorit, masih menyisakan rasa kesal.

Seperti diusir karena tidak seharusnya saya berada di tempat itu membuat saya semakin tersadar; manusia dihargai karena latar belakangnya. Entah dari ekonominya, fisiknya, kemampuannya, ataupun kepribadiannya. Saya memang tidak memiliki banyak pengetahuan, tapi bukan berarti juga saya buta akan pengalaman. Kepribadian saya yang cenderung pendiam ketika di ruang terbuka untuk lebih memilih mengamati perilaku seseorang, membuat saya sering tersadar makna dari mimik wajah lawan ketika saya berbicara. Entah saya yang terlalu berasumsi atau apa, tapi ada rasa kesal yang masih terselip di benak saya, tapi juga ada rasa yang tersulut seperti rasa jika saya nanti harus menjadi seseorang yang lebih mengahargai yang lain. Saya harus menjadi manusia yang bermanfaat, tidak hanya berpangkat dan bergelar, tapi juga memiliki rasa empati terhadap sesama.

Beberapa hari ini, bahkan mungkin beberapa bulan kebelakang, saya semakin pemurung. Saya sadar akan hal itu. Sebentar-sebentar ceria, lalu kembali menjadi pendiam, terjadi berulang-ulang. Saya pribadipun tidak paham betul kenapa bisa seperti ini. Yang saya tahu, saya sedang mencari. Mencari sesuatu, sesuatu yang akan menjadi jawaban; untuk apa aku diciptakan wahai Tuhanku?

Posted from WordPress for Android

Januari Kelabu

Bisakah engkau percaya pada rasa? Bila nyatanya rasa itu malah memberi kesakitan?
Bisakah engkau percaya pada takdir? Bila nyatanya engkau selalu mengingkari takdir? Hidup dengan caramu, menghindari takdir-takdir yang selalu mengejarmu?

Selalu dari sini, dari ujung tempatmu berdiri. Aku hidup dalam duniaku. Merangkai takdir yang ingin terjadi, agar ada rasa lega dalam diri. Tapi ternyata Tuhan ingin aku bijak. Apapun yang sudah digariskan olehnya, itu lebih baik daripada apa yang aku goreskan.

Rintik hujan di Januari masih sama, masih memberi aroma rindu kepadamu. Membelai rongga hidung untuk terhanyut nostalgia. Memberi rasa fatamorgana untuk dicicip hanya sekian detik. Kemudian kembali merenggutnya saat tetesan air jatuh menghujam tanah. Menyisakan rasa yang tidak bisa diungkapkan. Yang aku tahu hanyalah satu; aku tidak sedang baik-baik saja.

Posted from WordPress for Android

Kau yang Tetap di Sana

Di sini aku terus memandangmu. Dari kejauhan berusaha untuk fokus akan mata yang semakin mengabur. Menanti kapan kamu akan keluar dari ruang kelasmu itu. Seperti penguntit, aku tidak memperdulikan apa kata mereka. Bodoh, iya bodoh. Tapi, disetiap aku melihat seberkas senyummu itu, hati ini terasa damai. Layaknya tanah gersang yang perlahan basah oleh titik-titik embun. Damai.

Butuh waktu satu tahun lebih untuk mengetahui siapa namamu, dan rupanya Tuhan sedang menebar senyum. Pagi itu, aku bahkan tidak pernah membayangkan hal ini bisa terjadi. Bisa sedekat ini, walau hanya sebentar, tapi terasa sangat membekas. Ingin melupakannya, tapi rupanya kenangan indah tak semudah itu untuk dilupakan. Membuatku berkhayal, kapan hari itu akan kembali terulang? Ya, ada rindu yang terselip.

Aku tidak murahan. Sungguh. Sudahku katakan sebelumnya, untuk mengetahui namanya pun aku membutuhkan waktu satu tahun lebih. Apa yang salah dari pengharapan ini? Sia-sia? Mungkin.

Satu tahun yang lalu, aku melihatmu dengan angkuhnya melewati kelasku. Terlihat begitu percaya diri.  Berjalan lurus tanpa melihat ke arah jendela kelasku. Kamu tahu apa yang ku inginkan saat itu? Dalam hati aku selalu mengatakan, menengoklah, menengoklah.

Lewat bibir menghitammu, semilir aroma tubuhmu waktu itu, aku semakin ingin memasuki kehidupanmu. Apa yang kamu lakukan dengan temanmu? Tidak, aku tidak akan melarang, meski jujur aku sangat membenci benda itu. Aku juga tidak akan bertanya kenapa. Tapi yang ingin aku katakan, ya aku ingin menanyakan satu hal,
Apa yang kamu rasakan ketika melakukan hal itu? Bisakah aku menggantikan rasa yang benda itu ciptakan?

Posted from WordPress for Android

Firasatkah?

Di sudut sekolah yang memanas. Ya, panas karena gejolak hati para penghuninya. Marah, kesal, ingin dipahami, dan tentunya menginginkan suatu keputusan. Aku merasakan gejolak emosi ini sejak pagi. Badan tidak karuan, merasa kelelahan tapi tidak melakukan apa-apa. Mungkin ini yang dinamakan tekanan batin. Sebuah firasat akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakan.

Mata mereka menunjukan sorot yang berbeda dengan apa yang diucapkannya. Terlihat santai, tapi tidak dengan matanya. Mata jendela hati. Sedangkan mulut, mulut jendela? Mungkin, mulut adalah jendela dari pertikaian. Entahlah. Aku tidak ingin berasumsi terlalu jauh. Tapi itu yang aku rasakan saat ini. Dari tengah-tengah mereka, mataku terpaku pada pintu yang tertutup rapat,

aku ingin keluar dari suasana ini, tolong!

Posted from WordPress for Android

Temani Aku

Sudah kali ke tujuh dering ponsel diabaikan pemiliknya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Gelegar petir terus memaksa, menyadarkan siapapun pada kenyataan bahwa hidup tak seindah yang diharapkan.

Matanya menatap jauh ke luar jendela. Kaca yang tertutup embun yang kian menebal menambah pemilik lamunan betah menatapnya. Sederhana. Kita bisa menulis apa yang kita inginkan. Jemari kurusnya menelusuri kaca, membentuk satu kata yang mendeskripsikan hatinya saat ini,

Sendiri.

“Kamu tidak sendiri, Al.” pria jangkung menghampiri gadis yang kini tengah menatapnya.

“Untuk apa?” pandangannya kembali ke jendela. “Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah ku bilang, jangan kemari lagi?!” nada suaranya meninggi, namun getar dalam suara itu tetap terdengar jelas.

“Jika masih ada manusia di sekitarmu, cobalah untuk berbagi masalahmu. Jangan kau pendam sendiri.” udara semakin menusuk, merasuk ke ulu hati. Sesak. Detik meninggalkan menit, hujan meninggalkan awan, yang tersisa hanyalah kenangan. Bahwa dia pernah ada di tempat yang sebelumnya pernah di tempati.

“Mereka tidak akan mendengarkan aku. Yang mereka dengarkan hanyalah masalah,” helaan napas kasar seirama dengan jantungnya yang berpacu semakin cepat, “mereka tidak pernah mendengarkan aku, mereka tidak mendengarkan aku sebagai Alona.”

“Mereka peduli denganmu, sungguh,” jeda sesaat, “aku juga peduli denganmu.”

“Omong kosong apalagi yang kamu ingin katakan?” Matanya berkilat marah.

“Satu hal yang kamu harus tahu. Jika kamu pikir tidak ada satupun yang peduli denganmu, itu salah. Karena aku di sini hanya untuk menemani Alona Prameswari”

Aku sendiri
Aku kesepian
Di mana ada aku
Mereka semua perlahan pergi
Di mana ada aku
Bulanpun tak sudi memantulkan cahayanya
Bulanpun tak sudi menerimaku sebagai pelengkapnya
Aku bukanlah bumi
Bukan yang menjadi orbitnya
Tapi aku,
Hanyalah manusia yang ingin ditemani
Sepanjang detik masih bernapas

Secarik kertas yang sudah ditinggalkan penulisnya. Tidak ada tetesan air mata di sana. Hatinya memang tengah terluka. Tapi matanya enggan untuk melepas duka. Bahkan air mata pun tak sudi untuk melepas beban, tak sudi untuk bersentuhan dengan wajahnya. Memiliki kesedihan tapi tidak bisa menangis, bisa dibayangkan hatinya kini seperti apa.

Posted from WordPress for Android