Sejak Lama

Ku ingin rasakan pedihnya tertusuk bilah pisau
Hingga aku lupa bagaimana caranya untuk menangis kesakitan
Beralunan tangis
Bernafaskan kepedihan
Aku ingin merasakannya
Hingga tak ada jerit kepedihan

Ingin rasanya untuk berdiam sejenak
Hati lelah
Pikiran pun sama
Begitu kusut hingga tak tahu apa yang harus diselesaikan
Begitu rapuh sering terbentur duri
Bagaimana bisa badan ini tetap berdiri kokoh?

Sungguh, aku ingin merasakan sakit tertusuk pisau beracun
Tak apa
Biar aku kebal akan rasa itu
Biar aku kebal akan racun itu
Toh, sudah lama aku menanti hal ini akan datang
Hingga aku tidak akan mengeluh lagi
Oleh segala remeh temeh kehidupan
Ya,
Aku akan menanti hari itu tiba
Dengan tangis akan kusambut dengan bahagia
Hatiku segera mati
Perlahan tapi pasti

Posted from WordPress for Android

Iklan

Sekedar Asumsi atau?

Ngga penting sekolah kamu di mana, yang penting kamu belajarnya gimana.

Kalimat yang terdengar sangat sederhana, tapi akan menjadi begitu kompleks jika terjadi di kehidupan nyata. Sempat merasakan bagaimana bersekolah di smp favorit dan kini bersekolah di sekolah yang “biasa” membuat saya paham akan pandangan orang tentang asal sekolah seseorang. Dahulu, ketika saya masih menyandang sebagai siswa dari salah satu smp terfavorit, saya memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan maaf, ketika ada murid dari smp lain yang (maaf) biasa saja yang ada dipikiran saya adalah anak-anak yg tidak peduli akan akademik dan cenderung bebas. Memang, paradigma masyarakat yang mendorong opini jika seorang siswa yang bersekolah di sekolah yang biasa saja adalah siswa yang tidak berkompeten, tidak memiliki daya saing, atau tidak memiliki gairah untuk meraih mimpi setinggi-tingginya telah membuat kebanyakan dari kalangan atas memandang rendah yang tidak sehebat dirinya.

Hal ini baru terjadi sekitar beberapa jam yang lalu, masih hangat diingatan saya ketika saya dan teman-teman saya diabaikan oleh seseorang yang bisa dibilang telah melangkah lebih jauh dari kami dalam meraih cita-citanya. Diabaikan karena bukan berasal dari sma favorit, masih menyisakan rasa kesal.

Seperti diusir karena tidak seharusnya saya berada di tempat itu membuat saya semakin tersadar; manusia dihargai karena latar belakangnya. Entah dari ekonominya, fisiknya, kemampuannya, ataupun kepribadiannya. Saya memang tidak memiliki banyak pengetahuan, tapi bukan berarti juga saya buta akan pengalaman. Kepribadian saya yang cenderung pendiam ketika di ruang terbuka untuk lebih memilih mengamati perilaku seseorang, membuat saya sering tersadar makna dari mimik wajah lawan ketika saya berbicara. Entah saya yang terlalu berasumsi atau apa, tapi ada rasa kesal yang masih terselip di benak saya, tapi juga ada rasa yang tersulut seperti rasa jika saya nanti harus menjadi seseorang yang lebih mengahargai yang lain. Saya harus menjadi manusia yang bermanfaat, tidak hanya berpangkat dan bergelar, tapi juga memiliki rasa empati terhadap sesama.

Beberapa hari ini, bahkan mungkin beberapa bulan kebelakang, saya semakin pemurung. Saya sadar akan hal itu. Sebentar-sebentar ceria, lalu kembali menjadi pendiam, terjadi berulang-ulang. Saya pribadipun tidak paham betul kenapa bisa seperti ini. Yang saya tahu, saya sedang mencari. Mencari sesuatu, sesuatu yang akan menjadi jawaban; untuk apa aku diciptakan wahai Tuhanku?

Posted from WordPress for Android