Temani Aku

Sudah kali ke tujuh dering ponsel diabaikan pemiliknya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Gelegar petir terus memaksa, menyadarkan siapapun pada kenyataan bahwa hidup tak seindah yang diharapkan.

Matanya menatap jauh ke luar jendela. Kaca yang tertutup embun yang kian menebal menambah pemilik lamunan betah menatapnya. Sederhana. Kita bisa menulis apa yang kita inginkan. Jemari kurusnya menelusuri kaca, membentuk satu kata yang mendeskripsikan hatinya saat ini,

Sendiri.

“Kamu tidak sendiri, Al.” pria jangkung menghampiri gadis yang kini tengah menatapnya.

“Untuk apa?” pandangannya kembali ke jendela. “Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah ku bilang, jangan kemari lagi?!” nada suaranya meninggi, namun getar dalam suara itu tetap terdengar jelas.

“Jika masih ada manusia di sekitarmu, cobalah untuk berbagi masalahmu. Jangan kau pendam sendiri.” udara semakin menusuk, merasuk ke ulu hati. Sesak. Detik meninggalkan menit, hujan meninggalkan awan, yang tersisa hanyalah kenangan. Bahwa dia pernah ada di tempat yang sebelumnya pernah di tempati.

“Mereka tidak akan mendengarkan aku. Yang mereka dengarkan hanyalah masalah,” helaan napas kasar seirama dengan jantungnya yang berpacu semakin cepat, “mereka tidak pernah mendengarkan aku, mereka tidak mendengarkan aku sebagai Alona.”

“Mereka peduli denganmu, sungguh,” jeda sesaat, “aku juga peduli denganmu.”

“Omong kosong apalagi yang kamu ingin katakan?” Matanya berkilat marah.

“Satu hal yang kamu harus tahu. Jika kamu pikir tidak ada satupun yang peduli denganmu, itu salah. Karena aku di sini hanya untuk menemani Alona Prameswari”

Aku sendiri
Aku kesepian
Di mana ada aku
Mereka semua perlahan pergi
Di mana ada aku
Bulanpun tak sudi memantulkan cahayanya
Bulanpun tak sudi menerimaku sebagai pelengkapnya
Aku bukanlah bumi
Bukan yang menjadi orbitnya
Tapi aku,
Hanyalah manusia yang ingin ditemani
Sepanjang detik masih bernapas

Secarik kertas yang sudah ditinggalkan penulisnya. Tidak ada tetesan air mata di sana. Hatinya memang tengah terluka. Tapi matanya enggan untuk melepas duka. Bahkan air mata pun tak sudi untuk melepas beban, tak sudi untuk bersentuhan dengan wajahnya. Memiliki kesedihan tapi tidak bisa menangis, bisa dibayangkan hatinya kini seperti apa.

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s