Januari Kelabu

Bisakah engkau percaya pada rasa? Bila nyatanya rasa itu malah memberi kesakitan?
Bisakah engkau percaya pada takdir? Bila nyatanya engkau selalu mengingkari takdir? Hidup dengan caramu, menghindari takdir-takdir yang selalu mengejarmu?

Selalu dari sini, dari ujung tempatmu berdiri. Aku hidup dalam duniaku. Merangkai takdir yang ingin terjadi, agar ada rasa lega dalam diri. Tapi ternyata Tuhan ingin aku bijak. Apapun yang sudah digariskan olehnya, itu lebih baik daripada apa yang aku goreskan.

Rintik hujan di Januari masih sama, masih memberi aroma rindu kepadamu. Membelai rongga hidung untuk terhanyut nostalgia. Memberi rasa fatamorgana untuk dicicip hanya sekian detik. Kemudian kembali merenggutnya saat tetesan air jatuh menghujam tanah. Menyisakan rasa yang tidak bisa diungkapkan. Yang aku tahu hanyalah satu; aku tidak sedang baik-baik saja.

Posted from WordPress for Android

Kau yang Tetap di Sana

Di sini aku terus memandangmu. Dari kejauhan berusaha untuk fokus akan mata yang semakin mengabur. Menanti kapan kamu akan keluar dari ruang kelasmu itu. Seperti penguntit, aku tidak memperdulikan apa kata mereka. Bodoh, iya bodoh. Tapi, disetiap aku melihat seberkas senyummu itu, hati ini terasa damai. Layaknya tanah gersang yang perlahan basah oleh titik-titik embun. Damai.

Butuh waktu satu tahun lebih untuk mengetahui siapa namamu, dan rupanya Tuhan sedang menebar senyum. Pagi itu, aku bahkan tidak pernah membayangkan hal ini bisa terjadi. Bisa sedekat ini, walau hanya sebentar, tapi terasa sangat membekas. Ingin melupakannya, tapi rupanya kenangan indah tak semudah itu untuk dilupakan. Membuatku berkhayal, kapan hari itu akan kembali terulang? Ya, ada rindu yang terselip.

Aku tidak murahan. Sungguh. Sudahku katakan sebelumnya, untuk mengetahui namanya pun aku membutuhkan waktu satu tahun lebih. Apa yang salah dari pengharapan ini? Sia-sia? Mungkin.

Satu tahun yang lalu, aku melihatmu dengan angkuhnya melewati kelasku. Terlihat begitu percaya diri.  Berjalan lurus tanpa melihat ke arah jendela kelasku. Kamu tahu apa yang ku inginkan saat itu? Dalam hati aku selalu mengatakan, menengoklah, menengoklah.

Lewat bibir menghitammu, semilir aroma tubuhmu waktu itu, aku semakin ingin memasuki kehidupanmu. Apa yang kamu lakukan dengan temanmu? Tidak, aku tidak akan melarang, meski jujur aku sangat membenci benda itu. Aku juga tidak akan bertanya kenapa. Tapi yang ingin aku katakan, ya aku ingin menanyakan satu hal,
Apa yang kamu rasakan ketika melakukan hal itu? Bisakah aku menggantikan rasa yang benda itu ciptakan?

Posted from WordPress for Android

Firasatkah?

Di sudut sekolah yang memanas. Ya, panas karena gejolak hati para penghuninya. Marah, kesal, ingin dipahami, dan tentunya menginginkan suatu keputusan. Aku merasakan gejolak emosi ini sejak pagi. Badan tidak karuan, merasa kelelahan tapi tidak melakukan apa-apa. Mungkin ini yang dinamakan tekanan batin. Sebuah firasat akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakan.

Mata mereka menunjukan sorot yang berbeda dengan apa yang diucapkannya. Terlihat santai, tapi tidak dengan matanya. Mata jendela hati. Sedangkan mulut, mulut jendela? Mungkin, mulut adalah jendela dari pertikaian. Entahlah. Aku tidak ingin berasumsi terlalu jauh. Tapi itu yang aku rasakan saat ini. Dari tengah-tengah mereka, mataku terpaku pada pintu yang tertutup rapat,

aku ingin keluar dari suasana ini, tolong!

Posted from WordPress for Android

Temani Aku

Sudah kali ke tujuh dering ponsel diabaikan pemiliknya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Gelegar petir terus memaksa, menyadarkan siapapun pada kenyataan bahwa hidup tak seindah yang diharapkan.

Matanya menatap jauh ke luar jendela. Kaca yang tertutup embun yang kian menebal menambah pemilik lamunan betah menatapnya. Sederhana. Kita bisa menulis apa yang kita inginkan. Jemari kurusnya menelusuri kaca, membentuk satu kata yang mendeskripsikan hatinya saat ini,

Sendiri.

“Kamu tidak sendiri, Al.” pria jangkung menghampiri gadis yang kini tengah menatapnya.

“Untuk apa?” pandangannya kembali ke jendela. “Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah ku bilang, jangan kemari lagi?!” nada suaranya meninggi, namun getar dalam suara itu tetap terdengar jelas.

“Jika masih ada manusia di sekitarmu, cobalah untuk berbagi masalahmu. Jangan kau pendam sendiri.” udara semakin menusuk, merasuk ke ulu hati. Sesak. Detik meninggalkan menit, hujan meninggalkan awan, yang tersisa hanyalah kenangan. Bahwa dia pernah ada di tempat yang sebelumnya pernah di tempati.

“Mereka tidak akan mendengarkan aku. Yang mereka dengarkan hanyalah masalah,” helaan napas kasar seirama dengan jantungnya yang berpacu semakin cepat, “mereka tidak pernah mendengarkan aku, mereka tidak mendengarkan aku sebagai Alona.”

“Mereka peduli denganmu, sungguh,” jeda sesaat, “aku juga peduli denganmu.”

“Omong kosong apalagi yang kamu ingin katakan?” Matanya berkilat marah.

“Satu hal yang kamu harus tahu. Jika kamu pikir tidak ada satupun yang peduli denganmu, itu salah. Karena aku di sini hanya untuk menemani Alona Prameswari”

Aku sendiri
Aku kesepian
Di mana ada aku
Mereka semua perlahan pergi
Di mana ada aku
Bulanpun tak sudi memantulkan cahayanya
Bulanpun tak sudi menerimaku sebagai pelengkapnya
Aku bukanlah bumi
Bukan yang menjadi orbitnya
Tapi aku,
Hanyalah manusia yang ingin ditemani
Sepanjang detik masih bernapas

Secarik kertas yang sudah ditinggalkan penulisnya. Tidak ada tetesan air mata di sana. Hatinya memang tengah terluka. Tapi matanya enggan untuk melepas duka. Bahkan air mata pun tak sudi untuk melepas beban, tak sudi untuk bersentuhan dengan wajahnya. Memiliki kesedihan tapi tidak bisa menangis, bisa dibayangkan hatinya kini seperti apa.

Posted from WordPress for Android

Perasaan Asing yang (Tidak) Mengganggu

I wanna sing, I wanna shout
I wanna scream till the words dry out
So put it in all of the papers,
I’m not afraid
They can read all about it

Aku hanya ingin bebas berekspresi. Entah itu tertawa lepas, menangis penuh teriakan, atau hanya percakapan ringan bersama teman sebaya lainnya. Tak peduli dengan perkataan orang lain, yang ku inginkan hanyalah hidup seperti yang aku mau, tanpa ada caci maki dari orang lain.

Aku bukanlah manusia sempurna bak malaikat, akupun bukan manusia dengan sejuta hina layaknya iblis. Tak apa tak menganggapku ada, itu lebih baik. Daripada menggunjing ku bagai manusia yang kehausan. Inginku abaikan, tapi hati ini tak mampu untuk berdiam.  Hati ini terasa semakin kotor, semakin penyakitan pada saat kata-kata kalian terlontar.

Awalnya aku ingin membuktikan, bahwa aku bukanlah seperti yang kalian katakan. Tapi, lagi lagi tubuhku pun ingin berkhianat. Kata-kata kalian seperti menghipnotis, entah dari kapan aku semakin menjadi seperti yang kalian katakan.

Setiap malam sebelum kembali terlelap, pikirku melayang. Apa yang salah dengan saya? Apa yang saya lakukan hingga saya mendapat perlakuan seperti ini? Buat apa saya dilahirkan? Apa saya hanya sebagai pelengkap kehidupan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan putus asa sering ku lontarkan. Tak apa, mungkin ini hanyalah proses intropeksi diri, pikirku awalnya. Tapi mengapa semakin lama pertanyaan seperti itu hidup di pikiranku, aku malah berasumsi bahwa ini adalah aku yang salah. Mereka seperti itu, karena aku yang salah. Aku yang hanya menjadi pemeran figuran di kehidupanku sendiri pun, karena aku yang tidak berani mengambil peran utama. Bukan salah mereka.

tapi ini salahku.

Posted from WordPress for Android